Budaya jam karet atau terlambat memang dianggap sebagai hal yang lumrah di Indonesia. Hal itu pun bertolak belakang dengan Swiss di Eropa yang dikenal sangat tepat waktu dan efisien.
Efisiensi dan budaya tepat waktu Swiss ternyata berasal dari prinsip hidup mereka. Mengulas definisi kebahagian oleh seorang pemikir Jerman, Schopenhauer, bahwa kebahagiaan yang sejati berasal dari waktu dan kebiasaan yang efisien. Itulah yang menjadi alasan gaya hidup penduduk Swiss pada umumnya.
Didasarkan dari prinsip hidup yang efisien, sejumlah penghasil jam ternama dunia pun berasal dari Swiss. Tentu bukan rahasia, kalau jam tangan 'Made in Swiss dan Swiss Army' sudah begitu terkenal di dunia akan akurasinya yang tak pernah meleset barang sedetik.

Jika melihat jam di pusat perbelanjaan misalnya, tak sedikit yang berasal dari Swiss dengan lambang negaranya yang berbentuk salib putih dengan kotak merah. Tak sedikit juga traveler yang liburan ke Swiss dan pulang dengan membawa jam tangan.
Etos efisien itu pun juga dapat dijumpai pada berbagai moda kendaraan yang ada di Swiss, baik MRT, tram maupun bus. Apabila naik kendaraan umum, traveler dapat melihat estimasi waktu kendaraan di setiap haltenya. Apabila tertulis 2 menit, sudah pasti kendaraan akan datang tepat waktu tanpa telat.
Fakta menarik lainnya, sejumlah tempat umum seperti toilet pun sangat bersih di Swiss. Kalau dibandingkan secara efisiensi dan etos hidup, mungkin hanya Jepang yang bisa menyaingi Swiss.

Jam karet? Sepertinya kata “jam karet” ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, jam karet adalah sebutan bagi suatu acara atau kedatangan seseorang yang tidak tepat waktu atau mengulur waktu sehingga melebihi waktu yang telah ditentukan. Lho, mengapa disebut “jam karet”? Ya, seperti karet yang bisa mengulur. Lalu apa saja penyebab “jam karet” jadi budaya di Indonesia ? mari kita ulas !....
Pertama, yaitu kebiasaan “suka menunda”. Ya, suka menunda adalah penyebab utama dari budaya jam karet ini. Tak bisa dipungkiri bahwa ada cukup banyak orang yang kerap menunda melakukan sesuatu. Misalnya menunda pertemuan. Tentu hal semacam ini akan mempengaruhi waktu orang lain yang ada di pertemuan tersebut. Hal ini tentu merugikan, bukan?
Kedua, banyak orang menganggap “jam karet” sudah jadi budaya. Banyak orang merasa “untuk apa datang cepat, toh yang lain juga pasti datangnya terlambat”. Sebagian orang ada yang menganggap demikian, tak bisa mengelak juga, saya pun terkadang berpikiran serupa.
Ketiga, yaitu kebiasaan orang – orang untuk “memaklumi” jam karet ini. Sebagai contoh, ketika seseorang datang terlambat, lalu ditanya “mengapa kamu datang terlambat?” , seseorang itu menjawab, “maaf, saya terjebak macet di jalan” atau “maaf, saya tadi terlambat bangun”. Jika kita terus menerus memaklumi atau “melegalkan” jam karet ini, tentu budaya jam karet ini pun akan semakin sulit untuk dihilangkan. Semakin banyak orang Indonesia berpikiran hal seperti ini, maka semakin besar pula jam karet ini “membudaya” di Indonesia.

Tentunya mengatasi sebuah kebiasan buruk untuk diri sendiri itu sangat sulit apalagi kebiasaan itu dilakukan oleh banyak orang atau sebuah kelompok. Tetapi, sebenarnya kebiasaan jam karet ini bisa kita kikis sedikit demi sedikit, mulai dari memikirkan dampak yang terjadi apabila kita melegalkan “jam karet” ini di dalam kehidupan kita sehari – hari, serta belajar menghargai waktu yang kita miliki. Bila kita menginginkan budaya jam karet ini hilang dari masyarakat Indonesia, maka kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Membiasakan mengikis sedikit demi sedikit kebiasaan menunda kita. Bila biasanya datang terlambat 10 menit, maka bisa kita kurangi menjadi 5 menit, lalu menjadi 1 menit, lalu menjadi tidak terlambat sama sekali. Ya, meninggalkan suatu aktivitas lama yang sudah sering kita jalani awalnya memanglah sulit, tetapi semua perubahan itu butuh proses. Maka dari itu mari kita niatkan untuk berubah meskipun awalnya perubahan itu tidak terlihat oleh kita perbedaannya, maka lakukan terus menerus, sedikit demi sedikit, setahap demi setahap sampai kita tidak menyadari bahwa kita telah melakukan perubahan itu dan akhirnya merasa nyaman dengan perubahan kita. Admin pun yang sering terlibat dalam budaya “jam karet” ini tentunya berharap dan sedang berproses di dalamnya. Semoga dengan kesadaran kita, budaya “jam karet” ini bisa dihilangkan sedikit demi sedikit dan dapat meniru bangsa Swiss yang memiliki jargon :
Efisiensi dan budaya tepat waktu Swiss ternyata berasal dari prinsip hidup mereka. Mengulas definisi kebahagian oleh seorang pemikir Jerman, Schopenhauer, bahwa kebahagiaan yang sejati berasal dari waktu dan kebiasaan yang efisien. Itulah yang menjadi alasan gaya hidup penduduk Swiss pada umumnya.
Didasarkan dari prinsip hidup yang efisien, sejumlah penghasil jam ternama dunia pun berasal dari Swiss. Tentu bukan rahasia, kalau jam tangan 'Made in Swiss dan Swiss Army' sudah begitu terkenal di dunia akan akurasinya yang tak pernah meleset barang sedetik.

Jika melihat jam di pusat perbelanjaan misalnya, tak sedikit yang berasal dari Swiss dengan lambang negaranya yang berbentuk salib putih dengan kotak merah. Tak sedikit juga traveler yang liburan ke Swiss dan pulang dengan membawa jam tangan.
Fakta menarik lainnya, sejumlah tempat umum seperti toilet pun sangat bersih di Swiss. Kalau dibandingkan secara efisiensi dan etos hidup, mungkin hanya Jepang yang bisa menyaingi Swiss.
LALU BAGAIMANA KAITANNYA DENGAN BUDAYA "JAM KARET" DI INDONESIA ?

Jam karet? Sepertinya kata “jam karet” ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Ya, jam karet adalah sebutan bagi suatu acara atau kedatangan seseorang yang tidak tepat waktu atau mengulur waktu sehingga melebihi waktu yang telah ditentukan. Lho, mengapa disebut “jam karet”? Ya, seperti karet yang bisa mengulur. Lalu apa saja penyebab “jam karet” jadi budaya di Indonesia ? mari kita ulas !....
Pertama, yaitu kebiasaan “suka menunda”. Ya, suka menunda adalah penyebab utama dari budaya jam karet ini. Tak bisa dipungkiri bahwa ada cukup banyak orang yang kerap menunda melakukan sesuatu. Misalnya menunda pertemuan. Tentu hal semacam ini akan mempengaruhi waktu orang lain yang ada di pertemuan tersebut. Hal ini tentu merugikan, bukan?
Kedua, banyak orang menganggap “jam karet” sudah jadi budaya. Banyak orang merasa “untuk apa datang cepat, toh yang lain juga pasti datangnya terlambat”. Sebagian orang ada yang menganggap demikian, tak bisa mengelak juga, saya pun terkadang berpikiran serupa.
Ketiga, yaitu kebiasaan orang – orang untuk “memaklumi” jam karet ini. Sebagai contoh, ketika seseorang datang terlambat, lalu ditanya “mengapa kamu datang terlambat?” , seseorang itu menjawab, “maaf, saya terjebak macet di jalan” atau “maaf, saya tadi terlambat bangun”. Jika kita terus menerus memaklumi atau “melegalkan” jam karet ini, tentu budaya jam karet ini pun akan semakin sulit untuk dihilangkan. Semakin banyak orang Indonesia berpikiran hal seperti ini, maka semakin besar pula jam karet ini “membudaya” di Indonesia.
Lalu bagaimana kita merubah budaya ”memaklumi” menjadi “membenci” ?

Tentunya mengatasi sebuah kebiasan buruk untuk diri sendiri itu sangat sulit apalagi kebiasaan itu dilakukan oleh banyak orang atau sebuah kelompok. Tetapi, sebenarnya kebiasaan jam karet ini bisa kita kikis sedikit demi sedikit, mulai dari memikirkan dampak yang terjadi apabila kita melegalkan “jam karet” ini di dalam kehidupan kita sehari – hari, serta belajar menghargai waktu yang kita miliki. Bila kita menginginkan budaya jam karet ini hilang dari masyarakat Indonesia, maka kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Membiasakan mengikis sedikit demi sedikit kebiasaan menunda kita. Bila biasanya datang terlambat 10 menit, maka bisa kita kurangi menjadi 5 menit, lalu menjadi 1 menit, lalu menjadi tidak terlambat sama sekali. Ya, meninggalkan suatu aktivitas lama yang sudah sering kita jalani awalnya memanglah sulit, tetapi semua perubahan itu butuh proses. Maka dari itu mari kita niatkan untuk berubah meskipun awalnya perubahan itu tidak terlihat oleh kita perbedaannya, maka lakukan terus menerus, sedikit demi sedikit, setahap demi setahap sampai kita tidak menyadari bahwa kita telah melakukan perubahan itu dan akhirnya merasa nyaman dengan perubahan kita. Admin pun yang sering terlibat dalam budaya “jam karet” ini tentunya berharap dan sedang berproses di dalamnya. Semoga dengan kesadaran kita, budaya “jam karet” ini bisa dihilangkan sedikit demi sedikit dan dapat meniru bangsa Swiss yang memiliki jargon :
'Saya hargai waktu, saya hargai Anda'
Daftar Pustaka
Chopard, Theo. 1963.
Switzerland Present and Future. Berne : New Helvetic Society
Kubly, Herbert. 1966. Switzerland.
Nederland : Time-Life International
Beguin, Pierre. 1969. The
Face of Switzerland. Lausanne : Swiss Office for The Development of Trade

Komentar
Posting Komentar